Selasa, 31 Mei 2011

Mari Belajar Komunikasi (1) -Sebuah Pengantar (Seri Politik)–



“Some things haven’t changed : human nature and the need to interact effectively. To achieve excellence as a manager, interpersonal skills are essential.”
“ The people who’ve made the most positive impression on me and who’ve had the most positive influence on others as well all share one quality. They’re excellent communicators.”( Lani Arredondo)

Harian Kompas pagi ini, 4 Oktober 2008, menulis sikap presiden SBY di sela-sela acara halal bihalal dengan koleganya yang menyatakan tahun 2008 sebagai tahun politik. Hari ini pula, harian yang sama memberikan penilaian atas kelulusan Sandra Palin dari lubang jarum debat terbuka cawapres AS yang menurut prediksi para kritisi sebelumnya sebagai momen paling memalukan untuk gubernur dari Negara bagian Alaska tersebut. Palin tampil dengan sikap percaya diri, berusaha menguasai keadaan sehingga beberapa kelemahan karena ketidaktahuannya terhadap masalah tertentu dapat tertutupi. Jadi walaupun kalah dari sang senior, Biden, toh ia tidak kalah memalukan..

Pesan apakah sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Presiden SBY dalam momen halal-bihalal? Dan pelajaran apakah yang dapat dipetik dari momen debat terbuka cawapres AS?

Kedua peristiwa dari dua negara dari belahan dunia yang berbeda ini boleh jadi menciptakan persepsi yang berbeda dari pembacanya tergantung dari si pembaca dan fenomena yang menyertainya. Kompas, yang menurut beberapa pengamat media dinisbatkan sebagai Koran humanispun turut menyumbang persepsinya terhadap pembacanya.

Sebagai personal, siapapun dia terlebih SBY, Joe Biden dan Sandra Palin sebagai public figure secara sadar dan tidak sadar memerlukan pencitraan positif bagi dirinya dan menampilkan performa terbaiknya dimanapun ia berada. Sadar, karena hal tersebut dapat mempengaruhi penilain terhadap dirinya, kelompok atau komunitasnya terlebih lagi bagi politisi di masa-masa kampanye karena hal ini dapat mempengaruhi khalayak untuk memilih dirinya dan parpolnya atau mengalihkan pilihan terhadap yang lainnya yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan khalayak yang beragam, apalagi di masa-masa yang kian sulit.

Kekuatan medium komunikasipun memegang peranan penting dalam pencitraan dan penyampaian pesan. Tidak dapat dipungkiri mereka yang mampu memanfaatkan seluruh saluran komunikasi dialah yang dapat memenangkan persaingan, sehingga tidak mengherankan dimasa kini belanja iklan baik dari persona maupun perusahaan meningkat pesat seiring pesatnya persaingan di segala bidang. Tidak hanya medium atau saluran melalui iklan di televisi, majalah dan Koran , di masa kini juga memaksimalkan fungsi dari medium komunikasi handphone, pager, voice mail, email, faxes, videoconferencing dan internet. Dengan kecanggihan tehnologi ini, seseorang dapat berkomunikasi dengan siapa saja dari mana saja dan kapan saja. Barrack Obama, capres AS dari kubu demokrat sadar kekuatan internet yang dapat mempertahankan bahkan mendongkrak popularitasnya disamping mendekatkan dirinya dengan pemilih setianya melalui facebook yang konon diakses lebih dari 132 juta orang diseluruh dunia. Fery M Baldan ketua Pansus RUU Pilpres menulis dalam facebooknya, hampir setiap capres dan caleg dari berbagai partai memiliki facebook dan situs pribadi untuk mengenalkan pemikiran dan program kerjanya kelak. Dapat disimpulkan, penggunaan medium saluran komunikasi melalui internet dengan situs dan facebook ini mencitrakan yang bersangkutan sebagai sosok masa kini yang tidak gagap tehnologi dunia maya, terpelajar, berkelas dan berusaha menjangkau konstituennya, yang menurut beberapa pakar politik segmen ini yang paling kritis dalam menentukan pilihan.

Dari uraian diatas, sebenarnya memenuhi kaedah pemikiran dari salah satu founder komunikasi politik dunia, Harold Laswell di thun 1948 yang menyatakan,” who say what in which channel to whom with what effect”. Pemikiran Laswell ini mengisyaratkan bahwa lebih dari satu saluran yang dapat membawa pesan. Jadi, seseorang atau dan komunitasnya jikalau ingin hasil akhir produknya dipilih dan dibeli oleh konsumennya ia harus mampu memanfaatkan sebaik mungkin saluran komunikasi yang ada dimulai dari pencitraan dirinya (who). Hal ini kian mengukuhkan agadium komunikasi politik adalah pembicaraan. Pembicaraan tersebut melalui bahasa verbal (literasi politik yang kaya dan bernas) dan non verbal, baik itu gesture, ekspresi, performa bahkan penggunaan merek-merek produk terkenal dan mendunia seperti mobil, pakaian, tas , sepatu dst bahkan parfum yang dikenakan. Politisi yang gagap menyampaikan pesan-pesannya melalui bahasa-bahasa verbal dan non verbal terlebih di masa multipartai dan banyaknya politisi muda yang high qualified , segar dan bersih, dengan sendirinya akan tersingkir.

Para politisi, baik old fashioned atau muka lama maupun pendatang baru (bahkan karbitan karena factor genetis), harus melengkapi kualifikasi dirinya dengan kecakapan komunikasi interpersonal karena walaupun dunia sangat dinamis dengan perubahannya yang cepat, ada yang tidak pernah berubah yaitu kebiasaan alami (tabiat) manusia dan kebutuhannya pada interaksi yang efektif (bisa diterjemahkan yang mudah dimengerti dan langsung dirasakan manfaatnya). Komunikator yang hebat adalah mereka yang mampu membuat pencitraan paling positif tentang dirinya dan mampu mempengaruhi orang lain.

Karenanya, mari belajar berkomunikasi. Bagaimana menurut anda?

Bintaro, 4 Oktober 2008
Siti Saidah Silalahi,
Konsultan Komunikasi ‘Lingkar Pelita’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar