Story by Siti Saidah
Angin di awal bulan Juni terasa menggigit untuk Marini. Terasa menusuk hingga ke belulangnya. Ia melenguh sejenak, berharap rasa ngilu itu sedikit saja berkurang lalu dirapatkannya cardigan kelabu usang dengan jemarinya yang menggigil. Argh…sekarang geliginya yang gemeletuk, angin rupanya tak berbelas padahal Marini belum puas memanjakan anggrek bulannya yang sedang bermekaran.
Kali ini diseret kedua belah kakinya ke ruang tamu. Sofa lembut hijau tosca favoritnya itu selalu memanggilnya merebahkan diri untuk memulihkan sejenak raganya. Ruang enam kali enam meter itu begitu enak dipandang mata dan disentuh siapa saja yang ingin membuat ruang ini semarak.
Disudut dekat kamar Ivan, anak sulungnya, terbaring piano yang seusia dengan masa perkawinannya dengan Mas Bimo. Seulas senyum merekah di bibirnya, bayangan detik-detik berbunga yang berkelebat berkejaran menari di pelupuknya dengan tarian yang paling indah.
“Mam….
Mas Bimo muncul dari arah dapur dengan dua cangkir teh hangat. Hm…aroma putik melati membelai bulu-bulu hidung Marini. Ia menghirup aroma teh melati hingga memenuhi rongga dadanya. Mas Bimo selalu mengekspresikan perasaannya dengan melakukan apapun yang menyenangkannya. Tak pernah ada kata cinta sepanjang perkawinan mereka. Tapi, tuhanku Maha Kasih, mas Bimo tak pernah kehabisan perbendaharaan untuk membuat Marini merasa lebih dari sekedar kata cinta.
“mumpung masih hangat , reguklah mam…engkau akan merasa lebih nyaman” mas Bimo mendekatkan cangkir teh beraroma melati itu ke bibir Marini. Marini meneguknya perlahan, menikmatinya dengan sepenuh rasa karena ada cinta di setiap tegukannya. Bait-bait asa untuk rumah mereka disisi Sang Pemilik berhamburan memainkan nada allegro. Tuhanku, izinkan cinta kami hingga di kampong akhirat, tak kuasa Marini menitikkan embun di belah pipinya .
“Pap….
Suara Marini lirih, nyaris tak terdengar walau mereka duduk di sofa hijau tosca berdekatan. Suara angin awal Juni mengalahkan suara lirihnya.
Mas Bimo menatap penuh kasih belahan jiwanya, perempuan yang selalu cantik di pandangannya. Kesetiaan Marini, kecerdasannya dan keceriaannya yang menggelora membuatnya tak mampu berpaling . Bahkan kala menitikkan air mata, Marini tampak layaknya bunga-bunga bermekaran dan bermandikan embun.
Diraihnya kepala perempuan yang telah melahirkan lima anak pembela di hari akhir itu ke dadanya yang kurus. Tangannya gemetar mengusap kepala Marini. Ia tahu, istrinya merindukan kelima buah hati mereka yang kini hidup berjauhan. Angin awal bulan Juni telah mengiriman khabar pagi ini tentang makna manik-manik yang selalu menderas di kedua belah pipi istrinya. Kedua lengan kurusnya yang masih menyisakan catatan ketegaran hidup itu merengkuh tubuh kurus Marini. Mengirimkan pesan tersurat, anak-anak kita memiliki hidupnya sendiri, kita telah menorehkan catatan terbaik yang dapat kita lakukan. Sayangku, biarkan Sang Pemilik yang akan menggetarkan hati mereka, menyampaikan geletar rindu kita.
Marini terisak dengan menggugu, membasahi koko putih pudar mas Bimo. Ia tahu makna rengkuhan erat pahlawan hidupnya. Ia selalu berkata dengan tubuhnya dan aku selalu dapat membacanya. Karena kalian telah berjodoh, demikian Rose , salah satu sahabatnya yang tersisa berkata dengan nada iri akan kekuatan cinta diantara Marini dan Bimo. Marini segera menghapus ujung tangisnya dengan punggung lengannya, menepuk lembut dada suaminya mengirim pesan ‘aku tak apa-apa, sayangku’.
Mas Bimo beranjak dengan langkah-langkah gemetar, meraih tuts-tuts piano, menekan lembut, gerakannya seperti menari. Denting –denting piano Yamaha memainkan nada nasyid ‘Obat Hati’-nya Opick
Obat hati…
Ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur’an dan maknanya..
Marini turut bersenandung dengan suara merdunya yang masih bervibrasi sempurna. Bimo bersyukur dapat menghilangkan sejenak lara istrinya yang merindu. Siapa yang dapat menahan hati seorang ibu untuk bertemu dengan anak-anak yang pernah melingkar nyaman di dalam rahimnya. Sementara, aku , ayah mereka membunuh rindu sejenak dengan membaca kitab suci berpuluh-puluh ayat …toh kututup dengan tangisan yang bersembunyi di labirin hati yang paling dalam? Tuhanku, rindu itu menggenggam erat kami.
Bimo menghela nafas berat.
Ya Allah…lindungi anak-anakku, jadikan mereka penolongku di hari kemudian…
kedua tangannya menangkup didadanya, menahan nyeri rindu yang memerih.
Langkah-langkah kecil Marini memburu telepon yang terletak di ruang makan, mengangkatnya dengan penuh harap, anak-anaknya yang berbicara di seberang sana. Bukan dokter Darwin yang tidak pernah bosan menyapa di siang hari sekedar mengingatkan minum obat.
‘Assalamu’alaikum mam… ini Ivan..”
Suara yang dulu merengek dipangkuannya kini menyapa Marini, suara yang dinanti-nantiknya. Hatinya bergemuruh riang, hingga jatungnya terasa menari.
Riang itu kembali berganti nyeri yang menggigit karena seperti biasanya, Ivan begitu sibuk dengan usaha travelnya, ia berada di Negara kincir angin. Bagaimana aku bisa memeluk dan bercakap-cakap tentang indahnya mentari tenggelam di pantai Anyer? Begitu juga dengan Adit yang sedang berumroh sekeluarga, Ibra yang kuliah lagi untuk doctor robotiknya di negeri Sakura, Iman masih merenovasi rumahnya di Nagari pempek atau si bungsu Rayhan yang sedang meneliti untuk tesis masternya ke pedalaman suku Badui di Lebak. Lisan Marini keluh, di letakkan gagang telepon dengan perlahan, sesunyi detik-detik yang dilaluinya kini.
Perkawinan emas baru dilaluinya bulan lalu. Lima puluh tahun telah berlari demikian cepat.
Marini merasakan lengan yang masih kekar itu merengkuhnya dari punggungnya.
Lengan itu berkata-kata, menguatkan hatinya mengirim janji setia hingga sang maut menjemput.
‘dengarlah bidadariku, Dia memanggil kita dengan cinta. Mari kita bermesraan dengan Sang Maha Kasih’ . Mas Bimo menuntun Marini dengan penuh kasih. Bersujud pasrah dengan Sang Pemilik Waktu.
Bintaro, 5 Juni 2009
Angin di awal bulan Juni terasa menggigit untuk Marini. Terasa menusuk hingga ke belulangnya. Ia melenguh sejenak, berharap rasa ngilu itu sedikit saja berkurang lalu dirapatkannya cardigan kelabu usang dengan jemarinya yang menggigil. Argh…sekarang geliginya yang gemeletuk, angin rupanya tak berbelas padahal Marini belum puas memanjakan anggrek bulannya yang sedang bermekaran.
Kali ini diseret kedua belah kakinya ke ruang tamu. Sofa lembut hijau tosca favoritnya itu selalu memanggilnya merebahkan diri untuk memulihkan sejenak raganya. Ruang enam kali enam meter itu begitu enak dipandang mata dan disentuh siapa saja yang ingin membuat ruang ini semarak.
Disudut dekat kamar Ivan, anak sulungnya, terbaring piano yang seusia dengan masa perkawinannya dengan Mas Bimo. Seulas senyum merekah di bibirnya, bayangan detik-detik berbunga yang berkelebat berkejaran menari di pelupuknya dengan tarian yang paling indah.
“Mam….
Mas Bimo muncul dari arah dapur dengan dua cangkir teh hangat. Hm…aroma putik melati membelai bulu-bulu hidung Marini. Ia menghirup aroma teh melati hingga memenuhi rongga dadanya. Mas Bimo selalu mengekspresikan perasaannya dengan melakukan apapun yang menyenangkannya. Tak pernah ada kata cinta sepanjang perkawinan mereka. Tapi, tuhanku Maha Kasih, mas Bimo tak pernah kehabisan perbendaharaan untuk membuat Marini merasa lebih dari sekedar kata cinta.
“mumpung masih hangat , reguklah mam…engkau akan merasa lebih nyaman” mas Bimo mendekatkan cangkir teh beraroma melati itu ke bibir Marini. Marini meneguknya perlahan, menikmatinya dengan sepenuh rasa karena ada cinta di setiap tegukannya. Bait-bait asa untuk rumah mereka disisi Sang Pemilik berhamburan memainkan nada allegro. Tuhanku, izinkan cinta kami hingga di kampong akhirat, tak kuasa Marini menitikkan embun di belah pipinya .
“Pap….
Suara Marini lirih, nyaris tak terdengar walau mereka duduk di sofa hijau tosca berdekatan. Suara angin awal Juni mengalahkan suara lirihnya.
Mas Bimo menatap penuh kasih belahan jiwanya, perempuan yang selalu cantik di pandangannya. Kesetiaan Marini, kecerdasannya dan keceriaannya yang menggelora membuatnya tak mampu berpaling . Bahkan kala menitikkan air mata, Marini tampak layaknya bunga-bunga bermekaran dan bermandikan embun.
Diraihnya kepala perempuan yang telah melahirkan lima anak pembela di hari akhir itu ke dadanya yang kurus. Tangannya gemetar mengusap kepala Marini. Ia tahu, istrinya merindukan kelima buah hati mereka yang kini hidup berjauhan. Angin awal bulan Juni telah mengiriman khabar pagi ini tentang makna manik-manik yang selalu menderas di kedua belah pipi istrinya. Kedua lengan kurusnya yang masih menyisakan catatan ketegaran hidup itu merengkuh tubuh kurus Marini. Mengirimkan pesan tersurat, anak-anak kita memiliki hidupnya sendiri, kita telah menorehkan catatan terbaik yang dapat kita lakukan. Sayangku, biarkan Sang Pemilik yang akan menggetarkan hati mereka, menyampaikan geletar rindu kita.
Marini terisak dengan menggugu, membasahi koko putih pudar mas Bimo. Ia tahu makna rengkuhan erat pahlawan hidupnya. Ia selalu berkata dengan tubuhnya dan aku selalu dapat membacanya. Karena kalian telah berjodoh, demikian Rose , salah satu sahabatnya yang tersisa berkata dengan nada iri akan kekuatan cinta diantara Marini dan Bimo. Marini segera menghapus ujung tangisnya dengan punggung lengannya, menepuk lembut dada suaminya mengirim pesan ‘aku tak apa-apa, sayangku’.
Mas Bimo beranjak dengan langkah-langkah gemetar, meraih tuts-tuts piano, menekan lembut, gerakannya seperti menari. Denting –denting piano Yamaha memainkan nada nasyid ‘Obat Hati’-nya Opick
Obat hati…
Ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur’an dan maknanya..
Marini turut bersenandung dengan suara merdunya yang masih bervibrasi sempurna. Bimo bersyukur dapat menghilangkan sejenak lara istrinya yang merindu. Siapa yang dapat menahan hati seorang ibu untuk bertemu dengan anak-anak yang pernah melingkar nyaman di dalam rahimnya. Sementara, aku , ayah mereka membunuh rindu sejenak dengan membaca kitab suci berpuluh-puluh ayat …toh kututup dengan tangisan yang bersembunyi di labirin hati yang paling dalam? Tuhanku, rindu itu menggenggam erat kami.
Bimo menghela nafas berat.
Ya Allah…lindungi anak-anakku, jadikan mereka penolongku di hari kemudian…
kedua tangannya menangkup didadanya, menahan nyeri rindu yang memerih.
Langkah-langkah kecil Marini memburu telepon yang terletak di ruang makan, mengangkatnya dengan penuh harap, anak-anaknya yang berbicara di seberang sana. Bukan dokter Darwin yang tidak pernah bosan menyapa di siang hari sekedar mengingatkan minum obat.
‘Assalamu’alaikum mam… ini Ivan..”
Suara yang dulu merengek dipangkuannya kini menyapa Marini, suara yang dinanti-nantiknya. Hatinya bergemuruh riang, hingga jatungnya terasa menari.
Riang itu kembali berganti nyeri yang menggigit karena seperti biasanya, Ivan begitu sibuk dengan usaha travelnya, ia berada di Negara kincir angin. Bagaimana aku bisa memeluk dan bercakap-cakap tentang indahnya mentari tenggelam di pantai Anyer? Begitu juga dengan Adit yang sedang berumroh sekeluarga, Ibra yang kuliah lagi untuk doctor robotiknya di negeri Sakura, Iman masih merenovasi rumahnya di Nagari pempek atau si bungsu Rayhan yang sedang meneliti untuk tesis masternya ke pedalaman suku Badui di Lebak. Lisan Marini keluh, di letakkan gagang telepon dengan perlahan, sesunyi detik-detik yang dilaluinya kini.
Perkawinan emas baru dilaluinya bulan lalu. Lima puluh tahun telah berlari demikian cepat.
Marini merasakan lengan yang masih kekar itu merengkuhnya dari punggungnya.
Lengan itu berkata-kata, menguatkan hatinya mengirim janji setia hingga sang maut menjemput.
‘dengarlah bidadariku, Dia memanggil kita dengan cinta. Mari kita bermesraan dengan Sang Maha Kasih’ . Mas Bimo menuntun Marini dengan penuh kasih. Bersujud pasrah dengan Sang Pemilik Waktu.
Bintaro, 5 Juni 2009