Aku rindu...
rindu menulis bait-bait yang keluar dari geletar dawai hati.
Hati yang gerimis..
Meluahkan aneka irama yang telah kulakukan sekian lama,
kala usiaku menjejak kedualabuh jemari tanganku.
Adakalanya memainkan nada simphony, jazzy melankolis bahkan mars yang meletup-letup bergairah. Ada tangis yang berderai-derai disana,
ada lompatan kaki yang menghentak.
Yang tak pernah aku berhenti bersyukur adalah selalu ada Dia disana...
Laa tahzan innalLaha ma'ana..
Jemariku keluh, karena ia tak kuasa menuliskan gerimis hati ini dalam noktah bait ...
jemariku letih, karena lisanku petah bertutur mencari literasi bernas...
...............................................................................................
gerimis ini membuncah lalu menganak sungai dikedua belah pipiku,
Tuhanku,
Laa haula wa laa quwwata illa bilLah
............................................................................................
Engkau Maha Tahu setiap lintasan hati, tutur dan fikiran hatta yang menyelinap diam
hambaMu ini ridlo menukar semuanya untuk memeluk walau sedikit saja ridloMu
Tuhanku,
hambaMu ini teramat malu karena kasihMu tak berbilang
walau alpaku ......
Tuhanku....
Maha Cinta
hambaMu ini teramat malu, bila amanah teramat berat ini
tercatat di shuhufku dengan tinta merah dan malaikatmu menghentakkan dan berpaling
dan seluruh prajurit ragaku mencela...
Tuhanku...
Maha Kasih
Walau sepenuh langit dan bumi mencela dan menjauhiku
kumohon jangan pernah tinggalkan bait cintaMu padaku
selimuti aku dengan ridhoMu..
Amiiin
6 Maret 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar