Selasa, 31 Mei 2011

Jeritan Diam

Perjalanan ke daerah, selalu membuat hatiku gerimis, ragaku gemetar, tulangku lunglai dan otakku yang sibuk merangkai jawaban dari apa yang terlihat..
tanah yang kehilangan kesuburannya, teronggok pucat tanpa pernah lagi tersentuh tangan-tangan kuat yang kini lunglai kurang gizi.
anak-anak berperut buncit dg baju...sungguh layaknya lap dapurku yang belum dicuci, berhiaskan lelehan tak henti dari kedua liang hidungnya
perempuan-perempuan dengan tatapan kosong tak berdaya ketika mobil-mobil berlalu-lalang tak peduli.
mata tajam mereka bahkan mengintip tanpa jenak, menghujam ke sel-sel ragaku terdalam.
Kau tahu, teman bahkan sel-sel ragakupun menangis.
Jemalin tulangku menghentak, sudahkah kau memenuhi hak mereka hari ini?
.........gerimis dihatiku kian menderas
sudahkah kau menyapa, menyentuh, mendengar keluh-kesah mereka,, menyediakan bahumu untuk mereka ?
.........tangisku kian menghentak hingga ragaku tak lagi acuh
jemariku mengais tanah mereka dengan mengiba, suburlah engkau..
kucoba menyusuri pematangnya, menerobos ...mencari anak air
hujanpun menghujam, terlumat habis karena tanah sudah terlalu lama kerontang

Sebait doa lirih diantara tangisku yang diam
Sang Maha Kasih, kasihilah mereka, ampunilah dosa-dosa mereka jika mereka pernah lupa. jadikan tangan-tangan mereka berkah karenaMu.

Ibu bercaping mengangguk lemah, diantara keriput raganya, jemarinya yang gemetar menyentuh ujung kerudungku yang menyentuh pipinya yang kotor. Matanya memerah, kulihat beberapa embun menggenang diujungnya. Senyum lemahnya menitip pesan, terimakasih hari ini anakda adalah hadiah terindah dari Yang Tidak Pernah Tidur, bibirnya berdesis perlahan...

Aku? sibuk dengan tangisku yang kian membisu...karena jeritan di hatiku bergema, menerobos kepundannya dan meledakkan teriakannya...para tikus, janganlah kalian curi hak mereka. Tuhan tidak tidur. Tangisku memainkan nada2 sebastian bach....kemudian kembali tangis yang diam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar