Tak terasa jarum jam begitu cepat, hingga hari sudah berganti. Saya masih terpekur dengan iPad dan laptop yang menyala. Beberapa jam lagi waktunya untuk berbagi ilmu denga kaum ibu di kecamatan Solear. PC Salimah sejak Desember tahun lalu meminta diri ini untuk membawa tema 'Syarat Seorang Ibu Melalui Era Media'.
Sesekali jeda menengok lipatan pakaian,ketiadaan si mbak yang bantu- bantu bukanlah alasan untuk tidak melakukan hal yang bermanfaat. Dia yang tak ada itu bukanlah kambing hitam dari setiap ketidakberdayaan diri atau sesungguhnya pembenaran atas kemalasan. Aarrrgh...tidak boleh sama sekali...walau tak lupa dengan segala malu yang ku punya, menyelipkan doa Yaa Allah izinkan hamba memiliki seseorang yang membantu ku ...diantara sujud panjang ku. Tentu Sang Maha Sayang tahu apa yang terbaik buat hambaNya. Wahai...alhamdulilLah Engkau mudahkan segala urusan yang tidak mungkin. Masyaa Allah...
Seperti sekarang ini, tema talkshow sudah sering diminta pengundang. Tinggal merapihkan beberapa data dan kisah yang disesuaikan dengan kekinian. Detak jam yang terdengar kian nyaring karena malam sudah memeluk erat setiap pasang mata memaksa ku untuk memenuhi hak tubuh. Spakoi nochi....selamat beristirahat wahai setiap yang bernyawa...
BINTARO, 10 Februari 2013
00.35
Catatan Saidah
Sabtu, 09 Februari 2013
Catatan Proposal
AlhamdulilLah 2 proposal hari ini bisa dipenuhi
- talkshow remaja Garuda Keadilan, tempatnya di Kebon bu Husen, tempat yang keren, tidak membosankan untuk remaja mendengar sharing orang - orang sukses. Insyaa Allah Ananda Farah akan ikut serta. Sedikit sharing moga bisa membantu panitia yang juga umurnya ga beda jauh sama calon peserta . acaranya besok Ahad, 10 Februari 2013 mulai PKL 08.00
- talkshow tentang Ketahanan keluarga, tempatnya di mesjid raya Bintaro sektor 9. Yang punya hajatan hebat ini PC Salimah Pondok Aren...senang bisa menyemangati ibu-ibu pengurus PC Salimah dengan sedikit empati..ceumunguuuuuud bu Ainun...eeaaa
- talkshow remaja Garuda Keadilan, tempatnya di Kebon bu Husen, tempat yang keren, tidak membosankan untuk remaja mendengar sharing orang - orang sukses. Insyaa Allah Ananda Farah akan ikut serta. Sedikit sharing moga bisa membantu panitia yang juga umurnya ga beda jauh sama calon peserta . acaranya besok Ahad, 10 Februari 2013 mulai PKL 08.00
- talkshow tentang Ketahanan keluarga, tempatnya di mesjid raya Bintaro sektor 9. Yang punya hajatan hebat ini PC Salimah Pondok Aren...senang bisa menyemangati ibu-ibu pengurus PC Salimah dengan sedikit empati..ceumunguuuuuud bu Ainun...eeaaa
Sabtu, 18 Juni 2011
Pengelolaan Sampah (Fajar Banten, 14 Juni 2011)
Selama ini sampah menjadi masalah yang cukup mengganggu. selain masalah kesehatan, sampah juga berpotensi menjadi masalah sosial yang akut. Sampah diproduksi dan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari behaviour manusia.
Selain membutuhkan habit positif bagi setiap individu, tata kelola sampah yang lahir sebagai produk aturan menjadi sangat penting. Volume sampah yang dihasilkan dari berbagai sumber, mulai dari sampah rumah tangga hingga industri sudah sangat besar.
Dalam pengelolan sampah diberikan kepastian hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan pemerintah, pemerintah daerah serta peran masyarakat dan dunia usaha, sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan secara proporsional, efektif dan efisien.
Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan (sustainable)yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam UU No 18 tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.
Penumpukan sampah di TPA (Tempat pembuangan Akhir) adalah akibat hampir semua pemerintah daerah di Indonesia masih menganut paradigma lama penanganan sampah kota, yang menitikberatkan hanya pada pengangkutan dan pembuangan akhir. TPA dengan sistem lahan urug saniter yang ramah lingkungan ternyata tidak ramah dalam aspek pembiayaan, karena membutuhkan biaya tinggi untuk investasi, konstruksi, operasi dan pemeliharaan.
Perlu kita cermati bersama bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan sampah antara lain: kepadatan dan penyebaran penduduk, karakteristik fisik lingkungan dan sosial ekonomi, karakteristik sampah , budaya sikap dan perilaku masyarakat, jarak dari sumber sampah ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA), rencana tata ruang dan pengembangan wilayah, sarana pengumpulan, pengangkutan, pengolahan TPA, dan ketersediaan biaya. Dan tak kalah pentingnya adalah peraturan daerah yang menjadi payung hukum tata kelola sampah.
Koordinasi ala Tangsel
Ada terobosan yang dilakukan oleh walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Dhiany misalnya, dengan mencoba melakukan kerja sama antardaerah dalam pengelolaan sampah. Cukup baik political will yang ditunjukkan walikota dengan mendatangi kota dan kabupaten sekitar Tangsel untuk melakukan koordinasi dan kerjasama.
Betul apa yang disampaikan walikota bahwa menangani sampah adalah upaya lintas daerah yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Namun demikian, Pemerintah Provinsi Banten jelas harus menjawab dengan memberikan peran koordinasi agar secara kewilayahan pengelolaan sampah ini dapat diatasi dengan strategi kebersamaan dan terintegrasi. Keberadaan Perda memang sangatlah diperlukan dalam rangka menciptakan kepastian hukum.
Kepastian hukum tersebut diharapkan mampu menjadi payung hukum bagi pemerintah daerah untuk melakukan kerjasama antarpemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. Kerjasama sebagaimana yang dimaksud dalam bentuk kerjasama atau pembuatan usaha bersama pengelolaan sampah antar kab/kota yang berdekatan atau bertetangga.
Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintah provinsi mempunyai kewenangan : menetapkan kebijakan dan strategi sesuai dengan kebijakan pemerintah ; memfasilitasi kerjasama antardaerah dalam satu provinsi, kemitraan dan jejaring pengelolaan sampah;menyelenggarakan koordinasi, pembinaan dan pengawasan kinerja kabupaten/kota dan memfasilitasi penyelesaian perselisihan pengelolaan sampah antarkabupaten/kota dalam satu provinsi.
Desentralisasi
Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan : mengubah sampah menjadi material baru yang memiliki nilai ekonomis atau mengelola sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.
Sudah seharusnya pemerintah mengubah pola fikir pembangunan yang lebih bernuansa atau ramah lingkungan. Konsep pengelolaan sampah terpadu sudah saatnya diterapkan, yaitu dengan meminimasi sampah dan maksimasi daur ulang dan pengomposan disertai TPA yang ramah lingkungan. Paradigma baru penanganan sampah lebih merupakan satu siklus yang sejalan dengan konsep ekologi. Energi baru yang dihasilkan dari penguraian sampah maupun proses daur ulang dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Sungguh sangat membantu jika pengelolaan sampah dilakukan terdesentralisasi. Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengelolaan sampah di perkotaan tidak berjalan efektif dan efisien karena terpusat. Pengelolaan sampah terdesentralisasi dapat dilakukan di setiap RT atau RW, dengan cara mengubah sampah menjadi kompos. Dengan cara ini volume sampah yang diangkut ke TPA dapat dikurangi. Akhirnya, mari kita tunggu lahirnya Perda pengelolaan sampah di Provinsi Banten.
Penulis, Sekretaris Fraksi PKS
DPRD Provinsi Banten
Selain membutuhkan habit positif bagi setiap individu, tata kelola sampah yang lahir sebagai produk aturan menjadi sangat penting. Volume sampah yang dihasilkan dari berbagai sumber, mulai dari sampah rumah tangga hingga industri sudah sangat besar.
Dalam pengelolan sampah diberikan kepastian hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan pemerintah, pemerintah daerah serta peran masyarakat dan dunia usaha, sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan secara proporsional, efektif dan efisien.
Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan (sustainable)yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam UU No 18 tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.
Penumpukan sampah di TPA (Tempat pembuangan Akhir) adalah akibat hampir semua pemerintah daerah di Indonesia masih menganut paradigma lama penanganan sampah kota, yang menitikberatkan hanya pada pengangkutan dan pembuangan akhir. TPA dengan sistem lahan urug saniter yang ramah lingkungan ternyata tidak ramah dalam aspek pembiayaan, karena membutuhkan biaya tinggi untuk investasi, konstruksi, operasi dan pemeliharaan.
Perlu kita cermati bersama bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan sampah antara lain: kepadatan dan penyebaran penduduk, karakteristik fisik lingkungan dan sosial ekonomi, karakteristik sampah , budaya sikap dan perilaku masyarakat, jarak dari sumber sampah ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA), rencana tata ruang dan pengembangan wilayah, sarana pengumpulan, pengangkutan, pengolahan TPA, dan ketersediaan biaya. Dan tak kalah pentingnya adalah peraturan daerah yang menjadi payung hukum tata kelola sampah.
Koordinasi ala Tangsel
Ada terobosan yang dilakukan oleh walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Dhiany misalnya, dengan mencoba melakukan kerja sama antardaerah dalam pengelolaan sampah. Cukup baik political will yang ditunjukkan walikota dengan mendatangi kota dan kabupaten sekitar Tangsel untuk melakukan koordinasi dan kerjasama.
Betul apa yang disampaikan walikota bahwa menangani sampah adalah upaya lintas daerah yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Namun demikian, Pemerintah Provinsi Banten jelas harus menjawab dengan memberikan peran koordinasi agar secara kewilayahan pengelolaan sampah ini dapat diatasi dengan strategi kebersamaan dan terintegrasi. Keberadaan Perda memang sangatlah diperlukan dalam rangka menciptakan kepastian hukum.
Kepastian hukum tersebut diharapkan mampu menjadi payung hukum bagi pemerintah daerah untuk melakukan kerjasama antarpemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. Kerjasama sebagaimana yang dimaksud dalam bentuk kerjasama atau pembuatan usaha bersama pengelolaan sampah antar kab/kota yang berdekatan atau bertetangga.
Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintah provinsi mempunyai kewenangan : menetapkan kebijakan dan strategi sesuai dengan kebijakan pemerintah ; memfasilitasi kerjasama antardaerah dalam satu provinsi, kemitraan dan jejaring pengelolaan sampah;menyelenggarakan koordinasi, pembinaan dan pengawasan kinerja kabupaten/kota dan memfasilitasi penyelesaian perselisihan pengelolaan sampah antarkabupaten/kota dalam satu provinsi.
Desentralisasi
Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan : mengubah sampah menjadi material baru yang memiliki nilai ekonomis atau mengelola sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.
Sudah seharusnya pemerintah mengubah pola fikir pembangunan yang lebih bernuansa atau ramah lingkungan. Konsep pengelolaan sampah terpadu sudah saatnya diterapkan, yaitu dengan meminimasi sampah dan maksimasi daur ulang dan pengomposan disertai TPA yang ramah lingkungan. Paradigma baru penanganan sampah lebih merupakan satu siklus yang sejalan dengan konsep ekologi. Energi baru yang dihasilkan dari penguraian sampah maupun proses daur ulang dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Sungguh sangat membantu jika pengelolaan sampah dilakukan terdesentralisasi. Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengelolaan sampah di perkotaan tidak berjalan efektif dan efisien karena terpusat. Pengelolaan sampah terdesentralisasi dapat dilakukan di setiap RT atau RW, dengan cara mengubah sampah menjadi kompos. Dengan cara ini volume sampah yang diangkut ke TPA dapat dikurangi. Akhirnya, mari kita tunggu lahirnya Perda pengelolaan sampah di Provinsi Banten.
Penulis, Sekretaris Fraksi PKS
DPRD Provinsi Banten
Selasa, 31 Mei 2011
Cinta Yang Hening
Story by Siti Saidah
Angin di awal bulan Juni terasa menggigit untuk Marini. Terasa menusuk hingga ke belulangnya. Ia melenguh sejenak, berharap rasa ngilu itu sedikit saja berkurang lalu dirapatkannya cardigan kelabu usang dengan jemarinya yang menggigil. Argh…sekarang geliginya yang gemeletuk, angin rupanya tak berbelas padahal Marini belum puas memanjakan anggrek bulannya yang sedang bermekaran.
Kali ini diseret kedua belah kakinya ke ruang tamu. Sofa lembut hijau tosca favoritnya itu selalu memanggilnya merebahkan diri untuk memulihkan sejenak raganya. Ruang enam kali enam meter itu begitu enak dipandang mata dan disentuh siapa saja yang ingin membuat ruang ini semarak.
Disudut dekat kamar Ivan, anak sulungnya, terbaring piano yang seusia dengan masa perkawinannya dengan Mas Bimo. Seulas senyum merekah di bibirnya, bayangan detik-detik berbunga yang berkelebat berkejaran menari di pelupuknya dengan tarian yang paling indah.
“Mam….
Mas Bimo muncul dari arah dapur dengan dua cangkir teh hangat. Hm…aroma putik melati membelai bulu-bulu hidung Marini. Ia menghirup aroma teh melati hingga memenuhi rongga dadanya. Mas Bimo selalu mengekspresikan perasaannya dengan melakukan apapun yang menyenangkannya. Tak pernah ada kata cinta sepanjang perkawinan mereka. Tapi, tuhanku Maha Kasih, mas Bimo tak pernah kehabisan perbendaharaan untuk membuat Marini merasa lebih dari sekedar kata cinta.
“mumpung masih hangat , reguklah mam…engkau akan merasa lebih nyaman” mas Bimo mendekatkan cangkir teh beraroma melati itu ke bibir Marini. Marini meneguknya perlahan, menikmatinya dengan sepenuh rasa karena ada cinta di setiap tegukannya. Bait-bait asa untuk rumah mereka disisi Sang Pemilik berhamburan memainkan nada allegro. Tuhanku, izinkan cinta kami hingga di kampong akhirat, tak kuasa Marini menitikkan embun di belah pipinya .
“Pap….
Suara Marini lirih, nyaris tak terdengar walau mereka duduk di sofa hijau tosca berdekatan. Suara angin awal Juni mengalahkan suara lirihnya.
Mas Bimo menatap penuh kasih belahan jiwanya, perempuan yang selalu cantik di pandangannya. Kesetiaan Marini, kecerdasannya dan keceriaannya yang menggelora membuatnya tak mampu berpaling . Bahkan kala menitikkan air mata, Marini tampak layaknya bunga-bunga bermekaran dan bermandikan embun.
Diraihnya kepala perempuan yang telah melahirkan lima anak pembela di hari akhir itu ke dadanya yang kurus. Tangannya gemetar mengusap kepala Marini. Ia tahu, istrinya merindukan kelima buah hati mereka yang kini hidup berjauhan. Angin awal bulan Juni telah mengiriman khabar pagi ini tentang makna manik-manik yang selalu menderas di kedua belah pipi istrinya. Kedua lengan kurusnya yang masih menyisakan catatan ketegaran hidup itu merengkuh tubuh kurus Marini. Mengirimkan pesan tersurat, anak-anak kita memiliki hidupnya sendiri, kita telah menorehkan catatan terbaik yang dapat kita lakukan. Sayangku, biarkan Sang Pemilik yang akan menggetarkan hati mereka, menyampaikan geletar rindu kita.
Marini terisak dengan menggugu, membasahi koko putih pudar mas Bimo. Ia tahu makna rengkuhan erat pahlawan hidupnya. Ia selalu berkata dengan tubuhnya dan aku selalu dapat membacanya. Karena kalian telah berjodoh, demikian Rose , salah satu sahabatnya yang tersisa berkata dengan nada iri akan kekuatan cinta diantara Marini dan Bimo. Marini segera menghapus ujung tangisnya dengan punggung lengannya, menepuk lembut dada suaminya mengirim pesan ‘aku tak apa-apa, sayangku’.
Mas Bimo beranjak dengan langkah-langkah gemetar, meraih tuts-tuts piano, menekan lembut, gerakannya seperti menari. Denting –denting piano Yamaha memainkan nada nasyid ‘Obat Hati’-nya Opick
Obat hati…
Ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur’an dan maknanya..
Marini turut bersenandung dengan suara merdunya yang masih bervibrasi sempurna. Bimo bersyukur dapat menghilangkan sejenak lara istrinya yang merindu. Siapa yang dapat menahan hati seorang ibu untuk bertemu dengan anak-anak yang pernah melingkar nyaman di dalam rahimnya. Sementara, aku , ayah mereka membunuh rindu sejenak dengan membaca kitab suci berpuluh-puluh ayat …toh kututup dengan tangisan yang bersembunyi di labirin hati yang paling dalam? Tuhanku, rindu itu menggenggam erat kami.
Bimo menghela nafas berat.
Ya Allah…lindungi anak-anakku, jadikan mereka penolongku di hari kemudian…
kedua tangannya menangkup didadanya, menahan nyeri rindu yang memerih.
Langkah-langkah kecil Marini memburu telepon yang terletak di ruang makan, mengangkatnya dengan penuh harap, anak-anaknya yang berbicara di seberang sana. Bukan dokter Darwin yang tidak pernah bosan menyapa di siang hari sekedar mengingatkan minum obat.
‘Assalamu’alaikum mam… ini Ivan..”
Suara yang dulu merengek dipangkuannya kini menyapa Marini, suara yang dinanti-nantiknya. Hatinya bergemuruh riang, hingga jatungnya terasa menari.
Riang itu kembali berganti nyeri yang menggigit karena seperti biasanya, Ivan begitu sibuk dengan usaha travelnya, ia berada di Negara kincir angin. Bagaimana aku bisa memeluk dan bercakap-cakap tentang indahnya mentari tenggelam di pantai Anyer? Begitu juga dengan Adit yang sedang berumroh sekeluarga, Ibra yang kuliah lagi untuk doctor robotiknya di negeri Sakura, Iman masih merenovasi rumahnya di Nagari pempek atau si bungsu Rayhan yang sedang meneliti untuk tesis masternya ke pedalaman suku Badui di Lebak. Lisan Marini keluh, di letakkan gagang telepon dengan perlahan, sesunyi detik-detik yang dilaluinya kini.
Perkawinan emas baru dilaluinya bulan lalu. Lima puluh tahun telah berlari demikian cepat.
Marini merasakan lengan yang masih kekar itu merengkuhnya dari punggungnya.
Lengan itu berkata-kata, menguatkan hatinya mengirim janji setia hingga sang maut menjemput.
‘dengarlah bidadariku, Dia memanggil kita dengan cinta. Mari kita bermesraan dengan Sang Maha Kasih’ . Mas Bimo menuntun Marini dengan penuh kasih. Bersujud pasrah dengan Sang Pemilik Waktu.
Bintaro, 5 Juni 2009
Angin di awal bulan Juni terasa menggigit untuk Marini. Terasa menusuk hingga ke belulangnya. Ia melenguh sejenak, berharap rasa ngilu itu sedikit saja berkurang lalu dirapatkannya cardigan kelabu usang dengan jemarinya yang menggigil. Argh…sekarang geliginya yang gemeletuk, angin rupanya tak berbelas padahal Marini belum puas memanjakan anggrek bulannya yang sedang bermekaran.
Kali ini diseret kedua belah kakinya ke ruang tamu. Sofa lembut hijau tosca favoritnya itu selalu memanggilnya merebahkan diri untuk memulihkan sejenak raganya. Ruang enam kali enam meter itu begitu enak dipandang mata dan disentuh siapa saja yang ingin membuat ruang ini semarak.
Disudut dekat kamar Ivan, anak sulungnya, terbaring piano yang seusia dengan masa perkawinannya dengan Mas Bimo. Seulas senyum merekah di bibirnya, bayangan detik-detik berbunga yang berkelebat berkejaran menari di pelupuknya dengan tarian yang paling indah.
“Mam….
Mas Bimo muncul dari arah dapur dengan dua cangkir teh hangat. Hm…aroma putik melati membelai bulu-bulu hidung Marini. Ia menghirup aroma teh melati hingga memenuhi rongga dadanya. Mas Bimo selalu mengekspresikan perasaannya dengan melakukan apapun yang menyenangkannya. Tak pernah ada kata cinta sepanjang perkawinan mereka. Tapi, tuhanku Maha Kasih, mas Bimo tak pernah kehabisan perbendaharaan untuk membuat Marini merasa lebih dari sekedar kata cinta.
“mumpung masih hangat , reguklah mam…engkau akan merasa lebih nyaman” mas Bimo mendekatkan cangkir teh beraroma melati itu ke bibir Marini. Marini meneguknya perlahan, menikmatinya dengan sepenuh rasa karena ada cinta di setiap tegukannya. Bait-bait asa untuk rumah mereka disisi Sang Pemilik berhamburan memainkan nada allegro. Tuhanku, izinkan cinta kami hingga di kampong akhirat, tak kuasa Marini menitikkan embun di belah pipinya .
“Pap….
Suara Marini lirih, nyaris tak terdengar walau mereka duduk di sofa hijau tosca berdekatan. Suara angin awal Juni mengalahkan suara lirihnya.
Mas Bimo menatap penuh kasih belahan jiwanya, perempuan yang selalu cantik di pandangannya. Kesetiaan Marini, kecerdasannya dan keceriaannya yang menggelora membuatnya tak mampu berpaling . Bahkan kala menitikkan air mata, Marini tampak layaknya bunga-bunga bermekaran dan bermandikan embun.
Diraihnya kepala perempuan yang telah melahirkan lima anak pembela di hari akhir itu ke dadanya yang kurus. Tangannya gemetar mengusap kepala Marini. Ia tahu, istrinya merindukan kelima buah hati mereka yang kini hidup berjauhan. Angin awal bulan Juni telah mengiriman khabar pagi ini tentang makna manik-manik yang selalu menderas di kedua belah pipi istrinya. Kedua lengan kurusnya yang masih menyisakan catatan ketegaran hidup itu merengkuh tubuh kurus Marini. Mengirimkan pesan tersurat, anak-anak kita memiliki hidupnya sendiri, kita telah menorehkan catatan terbaik yang dapat kita lakukan. Sayangku, biarkan Sang Pemilik yang akan menggetarkan hati mereka, menyampaikan geletar rindu kita.
Marini terisak dengan menggugu, membasahi koko putih pudar mas Bimo. Ia tahu makna rengkuhan erat pahlawan hidupnya. Ia selalu berkata dengan tubuhnya dan aku selalu dapat membacanya. Karena kalian telah berjodoh, demikian Rose , salah satu sahabatnya yang tersisa berkata dengan nada iri akan kekuatan cinta diantara Marini dan Bimo. Marini segera menghapus ujung tangisnya dengan punggung lengannya, menepuk lembut dada suaminya mengirim pesan ‘aku tak apa-apa, sayangku’.
Mas Bimo beranjak dengan langkah-langkah gemetar, meraih tuts-tuts piano, menekan lembut, gerakannya seperti menari. Denting –denting piano Yamaha memainkan nada nasyid ‘Obat Hati’-nya Opick
Obat hati…
Ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur’an dan maknanya..
Marini turut bersenandung dengan suara merdunya yang masih bervibrasi sempurna. Bimo bersyukur dapat menghilangkan sejenak lara istrinya yang merindu. Siapa yang dapat menahan hati seorang ibu untuk bertemu dengan anak-anak yang pernah melingkar nyaman di dalam rahimnya. Sementara, aku , ayah mereka membunuh rindu sejenak dengan membaca kitab suci berpuluh-puluh ayat …toh kututup dengan tangisan yang bersembunyi di labirin hati yang paling dalam? Tuhanku, rindu itu menggenggam erat kami.
Bimo menghela nafas berat.
Ya Allah…lindungi anak-anakku, jadikan mereka penolongku di hari kemudian…
kedua tangannya menangkup didadanya, menahan nyeri rindu yang memerih.
Langkah-langkah kecil Marini memburu telepon yang terletak di ruang makan, mengangkatnya dengan penuh harap, anak-anaknya yang berbicara di seberang sana. Bukan dokter Darwin yang tidak pernah bosan menyapa di siang hari sekedar mengingatkan minum obat.
‘Assalamu’alaikum mam… ini Ivan..”
Suara yang dulu merengek dipangkuannya kini menyapa Marini, suara yang dinanti-nantiknya. Hatinya bergemuruh riang, hingga jatungnya terasa menari.
Riang itu kembali berganti nyeri yang menggigit karena seperti biasanya, Ivan begitu sibuk dengan usaha travelnya, ia berada di Negara kincir angin. Bagaimana aku bisa memeluk dan bercakap-cakap tentang indahnya mentari tenggelam di pantai Anyer? Begitu juga dengan Adit yang sedang berumroh sekeluarga, Ibra yang kuliah lagi untuk doctor robotiknya di negeri Sakura, Iman masih merenovasi rumahnya di Nagari pempek atau si bungsu Rayhan yang sedang meneliti untuk tesis masternya ke pedalaman suku Badui di Lebak. Lisan Marini keluh, di letakkan gagang telepon dengan perlahan, sesunyi detik-detik yang dilaluinya kini.
Perkawinan emas baru dilaluinya bulan lalu. Lima puluh tahun telah berlari demikian cepat.
Marini merasakan lengan yang masih kekar itu merengkuhnya dari punggungnya.
Lengan itu berkata-kata, menguatkan hatinya mengirim janji setia hingga sang maut menjemput.
‘dengarlah bidadariku, Dia memanggil kita dengan cinta. Mari kita bermesraan dengan Sang Maha Kasih’ . Mas Bimo menuntun Marini dengan penuh kasih. Bersujud pasrah dengan Sang Pemilik Waktu.
Bintaro, 5 Juni 2009
Cahaya Putriku
sepenggal catatan kunjungan ke pesantren Insan Mubarak)
putri sulungku, aisyah farah amani 14 tahun usianya,
kelas 8 nyantri di pesantren.
Tumbuh menjadi abg yang cantik.
tangan mungilnya selalu dimasukkan kesaku rok panjang lebarnya,
kala kulihat,
jemari kanannya
menggenggam Qur'an mungil
dan lisannya petah melafadz juz 28.
ia tertunduk,
aku ingin spt kakak kelasku, bun..
hafal 6 juzz...
wajahnya smakin bersinar,
walau coba ia lindungi dari jilbab lebarnya.
ia segera menggamit lenganku,
berlari menyuruk ke beranda mesjid.
Kubertanya, ada apa anakku shalihat?
Sebentar lagi adzan, bunda.
Para santri rijal dan penduduk sekitar shalat di mesjid ini,
tuturnya tersengal-sengal sambil mengajakku berwudhu.
AlhamdulilLah,
Dia telah menjaga putriku dalam rumahNya yang bersinar...
CintaNya ada di seluruh dimensi putriku
dan seluruh muslimah, insyaa Allah
16 mei 2009
putri sulungku, aisyah farah amani 14 tahun usianya,
kelas 8 nyantri di pesantren.
Tumbuh menjadi abg yang cantik.
tangan mungilnya selalu dimasukkan kesaku rok panjang lebarnya,
kala kulihat,
jemari kanannya
menggenggam Qur'an mungil
dan lisannya petah melafadz juz 28.
ia tertunduk,
aku ingin spt kakak kelasku, bun..
hafal 6 juzz...
wajahnya smakin bersinar,
walau coba ia lindungi dari jilbab lebarnya.
ia segera menggamit lenganku,
berlari menyuruk ke beranda mesjid.
Kubertanya, ada apa anakku shalihat?
Sebentar lagi adzan, bunda.
Para santri rijal dan penduduk sekitar shalat di mesjid ini,
tuturnya tersengal-sengal sambil mengajakku berwudhu.
AlhamdulilLah,
Dia telah menjaga putriku dalam rumahNya yang bersinar...
CintaNya ada di seluruh dimensi putriku
dan seluruh muslimah, insyaa Allah
16 mei 2009
Langkah-Langkah Kecil Menuju Kemenangan
Pagi mulai memanggil di bilangannya yang kesembilan
mentari pagi mulai menyengat....
hingga seluruh pori-pori kulitku merajuk , mengirimkan peluhnya.
kusapa ia dengan seluruh bara gairahku,
bersahabatlah denganku, kau tahu mentari ...
beberapa majelis cintaNya
telah memanggilku dengan segenap rindunya..
seorang bunda sebaya menyapaku.
ia katakan lautan rindu berpeluh
telah menantiku dengan nasyid bergenta..
Yaa Allah
Yaa Rasul salam 'alaika...
Yaa Nabii salam...salam 'alaika
Yaa Habib salam 'alaika
ShalawattulLah...'alaika
Kuberpacu dengan degup dan hentak detik bertalu..
Angin ..datanglah dengan semilirmu..
Jadikan perjalanan ini sederhana
Tanah pucat yang kutapaki menjerit
karena ia terluka, rusak dan layaknya berteriak satu kalimat
'aku tak ingin membuatmu terhalang menabur benih-benih cinta
Sang Pemilik..
Kala kujejakkan tapak kakiku pada sebuah pesantren nan sederhana
dengan tiang-tiang lunglai menunggu insan-insan pembenar jalanNya..
Yaa Rabb..
mereka merangkulku dengan mata-mata penuh cinta
mencium labuhtanganku (tak bisa kucegah), kedua belah pipiku
senandung penuh rindu...menari lewat petah lisan
menyentuh hingga sel terdalamku,
hamba tersengguk...
Selalu dan selalu pujian untukMu Yang Maha Terpuji
.....
Siang menyapa tanpa pernah menoleh
MajelisMu yang lain menunggu kalimah ayat-ayat langit
terurai, menelusup ke dalam sanubari,
menarikan seluruh sel-sel otak
dan memerintah seluruh raga berlari
menuju langit
....
malamMu menyapa
dan lalu...dan lalu..
Apakah yang lebih membahagiakan bagi seorang hamba?
kala ia berbagi cintaNya secara sederhana?
VBR Bintaro,
4 April 2009
mentari pagi mulai menyengat....
hingga seluruh pori-pori kulitku merajuk , mengirimkan peluhnya.
kusapa ia dengan seluruh bara gairahku,
bersahabatlah denganku, kau tahu mentari ...
beberapa majelis cintaNya
telah memanggilku dengan segenap rindunya..
seorang bunda sebaya menyapaku.
ia katakan lautan rindu berpeluh
telah menantiku dengan nasyid bergenta..
Yaa Allah
Yaa Rasul salam 'alaika...
Yaa Nabii salam...salam 'alaika
Yaa Habib salam 'alaika
ShalawattulLah...'alaika
Kuberpacu dengan degup dan hentak detik bertalu..
Angin ..datanglah dengan semilirmu..
Jadikan perjalanan ini sederhana
Tanah pucat yang kutapaki menjerit
karena ia terluka, rusak dan layaknya berteriak satu kalimat
'aku tak ingin membuatmu terhalang menabur benih-benih cinta
Sang Pemilik..
Kala kujejakkan tapak kakiku pada sebuah pesantren nan sederhana
dengan tiang-tiang lunglai menunggu insan-insan pembenar jalanNya..
Yaa Rabb..
mereka merangkulku dengan mata-mata penuh cinta
mencium labuhtanganku (tak bisa kucegah), kedua belah pipiku
senandung penuh rindu...menari lewat petah lisan
menyentuh hingga sel terdalamku,
hamba tersengguk...
Selalu dan selalu pujian untukMu Yang Maha Terpuji
.....
Siang menyapa tanpa pernah menoleh
MajelisMu yang lain menunggu kalimah ayat-ayat langit
terurai, menelusup ke dalam sanubari,
menarikan seluruh sel-sel otak
dan memerintah seluruh raga berlari
menuju langit
....
malamMu menyapa
dan lalu...dan lalu..
Apakah yang lebih membahagiakan bagi seorang hamba?
kala ia berbagi cintaNya secara sederhana?
VBR Bintaro,
4 April 2009
Miladmu Teman..(2)
kudengar tik...tak...jarum jam memukul masa
Ada bilangan berlalu
yang tak kuasa berpaling ke belakang
teman, dernyit menit menyampaikan pesan
tak kan pernah mampu kita urai
lewat petutur berbuih
lahu mahfudz meminta catatan terbaiknya
dentuman jamnya mengingatkan
bila waktu kan berakhir
kelak kan menderang
jannah mana yang akan kita peluk
Happy b'day..
5 April 2009
Ada bilangan berlalu
yang tak kuasa berpaling ke belakang
teman, dernyit menit menyampaikan pesan
tak kan pernah mampu kita urai
lewat petutur berbuih
lahu mahfudz meminta catatan terbaiknya
dentuman jamnya mengingatkan
bila waktu kan berakhir
kelak kan menderang
jannah mana yang akan kita peluk
Happy b'day..
5 April 2009
Miladmu Teman..
Jejak langkahmu masih tergambar
pada pantai perhiasan kehidupan
Sejenak sapuan lembut riak..
memisahkanmu pada masa yang ingin kau kenang...
Berjejaklah terus
dengan tapakmu yang kukuh...
karena di sana
Dia menyiapkan hamparan tilam lembut jannah
untukmu kelak
Diantara angin malam yang mengusap lembut ragaku,
Bintaro, 23 Maret 2009
Untuk seluruh teman-teman,
yang bermilad pada hari ni
pada pantai perhiasan kehidupan
Sejenak sapuan lembut riak..
memisahkanmu pada masa yang ingin kau kenang...
Berjejaklah terus
dengan tapakmu yang kukuh...
karena di sana
Dia menyiapkan hamparan tilam lembut jannah
untukmu kelak
Diantara angin malam yang mengusap lembut ragaku,
Bintaro, 23 Maret 2009
Untuk seluruh teman-teman,
yang bermilad pada hari ni
Kerudung
kukenakan kerudung membungkus seluruh tubuhku
kala aku mekar secantik krisan
kala aku mewangi seharum mawar jingga
kala aku berseri merona kejora
kala aku cemerlang sekerlip gemintang
karena Dia Maha Sempurna
serahkan raga dan bilik jiwa hanya pada Sang Pemilik
Dia membalasku kini
teramat lebih
Dia meletakkan dunia pada tanganku
Dia memberikanku seorang pangeran
dan cahaya mata belahan jiwa
yang memberikan cinta dengan melulu
(lalu, kukatakan pada dunia
lihatlah sepotong jilbab beratnya tak lebih dari sebotol plastik kecap kecil telah menaklukan syahwatku pada dunia)
Bintaro, 6 maret 2009
Ini catatan dadakan (bukan sambel dadak di resto sunda ya..)
coz nama kami perempuan berkerudung di tag di puisinya abinya Noe letto alias cak Nun
ketika namanya melintas, tembang nasyid tombo ati
menyiram suasana hati yang melow
JazakilLah buat Mbak Anna..
kala aku mekar secantik krisan
kala aku mewangi seharum mawar jingga
kala aku berseri merona kejora
kala aku cemerlang sekerlip gemintang
karena Dia Maha Sempurna
serahkan raga dan bilik jiwa hanya pada Sang Pemilik
Dia membalasku kini
teramat lebih
Dia meletakkan dunia pada tanganku
Dia memberikanku seorang pangeran
dan cahaya mata belahan jiwa
yang memberikan cinta dengan melulu
(lalu, kukatakan pada dunia
lihatlah sepotong jilbab beratnya tak lebih dari sebotol plastik kecap kecil telah menaklukan syahwatku pada dunia)
Bintaro, 6 maret 2009
Ini catatan dadakan (bukan sambel dadak di resto sunda ya..)
coz nama kami perempuan berkerudung di tag di puisinya abinya Noe letto alias cak Nun
ketika namanya melintas, tembang nasyid tombo ati
menyiram suasana hati yang melow
JazakilLah buat Mbak Anna..
Bait Doa Di Pagi Hari
Aku rindu...
rindu menulis bait-bait yang keluar dari geletar dawai hati.
Hati yang gerimis..
Meluahkan aneka irama yang telah kulakukan sekian lama,
kala usiaku menjejak kedualabuh jemari tanganku.
Adakalanya memainkan nada simphony, jazzy melankolis bahkan mars yang meletup-letup bergairah. Ada tangis yang berderai-derai disana,
ada lompatan kaki yang menghentak.
Yang tak pernah aku berhenti bersyukur adalah selalu ada Dia disana...
Laa tahzan innalLaha ma'ana..
Jemariku keluh, karena ia tak kuasa menuliskan gerimis hati ini dalam noktah bait ...
jemariku letih, karena lisanku petah bertutur mencari literasi bernas...
...............................................................................................
gerimis ini membuncah lalu menganak sungai dikedua belah pipiku,
Tuhanku,
Laa haula wa laa quwwata illa bilLah
............................................................................................
Engkau Maha Tahu setiap lintasan hati, tutur dan fikiran hatta yang menyelinap diam
hambaMu ini ridlo menukar semuanya untuk memeluk walau sedikit saja ridloMu
Tuhanku,
hambaMu ini teramat malu karena kasihMu tak berbilang
walau alpaku ......
Tuhanku....
Maha Cinta
hambaMu ini teramat malu, bila amanah teramat berat ini
tercatat di shuhufku dengan tinta merah dan malaikatmu menghentakkan dan berpaling
dan seluruh prajurit ragaku mencela...
Tuhanku...
Maha Kasih
Walau sepenuh langit dan bumi mencela dan menjauhiku
kumohon jangan pernah tinggalkan bait cintaMu padaku
selimuti aku dengan ridhoMu..
Amiiin
6 Maret 2009
Langganan:
Postingan (Atom)